Minggu, 26 Juli 2015

Taubat sang Pembunuh


Seorang pembunuh yang amat kejam telah menghabisi nyawa sembilan puluh sembilan orang. Ia merasa sangat menyesal. Ia mendatangi seorang alim dan bercerita tentang masa lalunya yang kelabu itu. Ia mengutarakan maksudnya untuk bertaubat dan menjadi orang yang lebih baik. Aku ingin tahu; apakah Tuhan akan mengampuniku?? ia bertanya.

Sang alim rupanya belum cukup banyak belajar. Ia menjawab, Tentu saja kau tak akan diampuni-Nya. Kalau begitu, ujar si pembunuh, lebih baik kau juga kubunuh saja sekalian. Ia pun membunuh alim itu. Kemudian ia bertemu orang alim lain. Ia mengatakan telah membunuh seratus orang. Aku ingin tahu, tanyanya, apakah Tuhan akan mengampuniku jika aku bertaubat?


Alim kedua ini lebih bijak dari yang pertama. Ia menjawab, Tentu saja kau akan diampuni. Bertaubatlah sekarang juga. Aku hanya punya satu nasihat untukmu; jauhilah teman-temanmu yang jahat dan bergabunglah dengan orang-orang yang saleh, karena teman yang jahat akan mendekatkanmu kepada dosa.

Orang itu lalu bertaubat dan menyesali dosa-dosanya. Ia menangis memohon ampunan Tuhan. Kemudian ia pun menjauhi teman-temannya yang jahat dan pergi mencari perkampungan tempat orang-orang saleh tinggal. Namun ketika ia berada di perjalanan, ajalnya tiba.

Malik, Malaikat Penjaga Neraka, dan Ridwan, Malaikat Penjaga Surga, sama-sama datang untuk menjemput ruhnya. Malik berkata bahwa orang itu adalah pendosa besar dan tempatnya di neraka jahanam. Tetapi Ridwan juga mengklaim bahwa orang itu layak masuk surga. Malaikat Ridwan berkata, Orang ini bertaubat dan telah memutuskan untuk menjadi orang baik. Ia sedang menempuh perjalanan ke kampung tempat tinggal orang-orang saleh ketika ajalnya tiba.


Kedua malaikat itu pun berdebat. Jibril datang untuk menyelesaikan masalah. Setelah mendengar pernyataan dari kedua malaikat, Jibril memutuskan, Ukur jaraknya. Jika tanah tempat mayatnya berada lebih dekat kepada orang-orang saleh, maka ia masuk surga; namun jika letak mayatnya lebih dekat kepada orang-orang jahat, ia harus masuk neraka.

Karena bekas pembunuh itu baru saja meninggalkan tempat orang jahat, ia masih terletak dekat sekali dengan mereka. Tetapi karena ia bertaubat dengan amat tulus, Tuhan memindahkan tubuhnya dari tempat ia meninggal ke dekat perkampungan orang saleh. Dan hamba yang bertaubat itu pun diserahkan ke dekapan malaikat penjaga surga.


Tuhan bersabda, Jika hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku satu hasta, Aku akan mendekatkan diri kepadanya satu siku. Apabila dia kembali kepada-Ku sambil berjalan, Aku akan menyambutnya sambil berlari.

Penderitaan adalah awal dari Pencerahan

Suatu hari, seorang lelaki tengah memecah tanah dengan cangkul. Seorang lelaki lain yang bodoh datang kepadanya dan berteriak, "Hei, mengapa kau merusak tanah itu?"
"Tolol!" jawab si pencangkul, "Pergilah kau dan jangan ganggu aku! Mengertilah perbedaan antara penghancuran dan pertumbuhan. Bagaimana mungkin tanah ini berubah menjadi kebun mawar atau ladang gandum, bila sebelumnya tak kau pecah-pecah dan kau rusak? Bagaimana mungkin tanah ini menjadi petamanan yang penuh dengan dedaunan dan buah-buahan, bila sebelumnya tak kau hancurkan dan kau remukkan?
"Sebelum kau pecahkan bisulmu dengan pisau, bagaimana mungkin penyakitmu itu dapat sembuh? Sebelum tabib memulihkan kesehatanmu dengan obatnya yang pahit, bagaimana mungkin penyakitmu dapat hilang?
"Ketika seorang penjahit menggunting sepotong kain, sedikit demi sedikit, apakah ada orang yang mendatanginya dan berteriak: Mengapa kau rusak satin indah ini? Apa gunanya serpihan-serpihan kain satin? Ketika para tukang datang untuk memperbaiki bangunan tua, bukankah mereka memulai pekerjaan mereka dengan menghancurkan bangunan itu terlebih dahulu?

"Lihatlah para tukang kayu, pandai besi, atau tukang daging. Kau akan temukan bahwa penghancuran adalah awal dari pembaharuan. Penderitaan adalah awal dari pencerahan. Bila kau tak membiarkan biji-biji gandum itu untuk digiling, dari mana dapat kau peroleh roti untuk makananmu?"

Kucing dan Daging Kambing

Pada zaman dahulu,  Kidir,  Guru  Musa,  memberi  peringatankepada  manusia.  Pada  hari  tertentu,  katanya,  semua airdidunia yang  tidak  disimpan  secara  khusus  akan  lenyap.Sebagai  gantinya  akan  ada air baru, yang mengubah manusiamenjadi gila. Hanya  seorang  yang  menangkap  makna  peringatan  itu.  Iamengumpulkan  air  dan  menyimpannya  di  tempat  yang aman.Ditunggunya saat yang di sebut-sebut itu. Pada  hari  yang  dipastikan  itu,  sungai-sungai   berhentimengalir, sumur-sumur mengering. Melihat kejadian itu, orangyang  menangkap  makna  peringatan  itupun  pergi   ketempatpenyimpanan dan meminum airnya. Ketika  dari  tempat persembunyiannya itu ia menyaksikan airterjun kembali memuntahkan air, orang itu pun  menggabungkandirinya kembali dengan orang-orang lain. Ternyata mereka itukini berpikir dan berbicara dengan  cara  sama  sekali  laindari  sebelumnya;  mereka  tidak  ingat lagi apa yang pernahterjadi, juga tidak ingat sama sekali bahwa pernah  mendapatperingatan.   Ketika  orang  itu  mencoba  berbicara  denganmereka,   ia   menyadari   bahwa   ternyata   mereka   telahmenganggapnya  gila.  Terhadapnya,  mereka  menunjukkan rasabenci atau kasihan, bukan pengertian. Mula-mula orang itu tidak mau minum air  yang  baru;  setiaphari   ia   pergi  ke  tempat  persembunyiannya,  minum  airsimpanannya. Tetapi, akhirnya ia  memutuskan  untuk  meminumsaja  air  baru itu; ia tidak tahan lagi menderita kesunyianhidup; tindakan dan pikirannya sama  sekali  berbeda  denganorang-orang  lain.  Ia  meminum  air  baru  itu, dan menjadiseperti yang lain-lain. Ia pun  sama  sekali  melupakan  airsimpanannya,  dan rekan rekannya mulai menganggapnya sebagaiorang yang baru saja waras dari sakit gila. Catatan Orang yang dianggap menciptakan kisah ini, Dhun-Nun, seorangMesir   (meninggal  tahun  860),  selalu  dihubung-hubungkandengan suatu bentuk Perserikatan Rahasia.  Ia  adalah  tokohpaling  awal  dalam  sejarah Kaum Darwis Malamati, yang olehpara ahli Barat sering dianggap memiliki persamaan yang eratdengan keahlian anggota Persekutuan Rahasia. Konon, Dhun-Nunberhasil menemukan arti hieroglip Firaun. Versi ini dikisahkan  oleh  Sayid  Sabir  Ali-Syah,  seorangulama Kaum Chishti, yang meninggal tahun 1818.